Saat kita membahas sesuatu , apalagi cinta , pasti nggak bakal ada abisnya. Nah bagaimana kalau sekarang kita bahas “ saat cinta itu sesuatu yang tak mungkin dimiliki”. Sebenernya sih ujung – ujungnya aku yang curhat masalah seseorang. Saat ini katakanlah dia sedang menjalani sebuah hubungan dengan seorang pria , dan hubungan tersebut sudah berjalan cukup lama (alhamdulilah yaaa hihihi). Gadis itu mengenalnya saat Ia berada di sebuah kota di Jawa Barat. Lelaki itu bernama Aji , dan gadis itu bernama Una. Mereka adalah pasangan yang saling mengasihi (yaiyalah kalo ngg saling sayang ya nggak pacaran sampe sekarang :p) , namun hubungan mereka terganjal perbedaan. Satu perbedaan yang akan berujung pada banyak masalah. Mereka berbeda keyakinan. Una dan Aji sebenarnya sudah tahu bahwa mereka memiliki perbedaan yang prinsipal, namun mereka mencoba menjalaninya, karena mereka tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan. Ralat , bukan mereka, ternyata Una memikirkan perbedaan itu. Gadis ini tidak bisa sepenuhnya menerima perbedaan itu , karena itu saat ini dia sedang di landa gelisah #bahasa gaul sekarang namanya g.a.l.a.u. Ia menyayangi Aji, sungguh , tapi ia juga sadar bahwa perbedaan itu terlalu jelas terlihat, dan semakin lama semakin terlihat bahwa mereka memang berbeda. Terkadang Aji berkata padanya untuk menjalani saja semua ini, kita berserah saja pada Tuhan apa yang akan terjadi , tapi Una tidak sepenuhnya bisa menerima perkataan Aji. Ia tetap saja memikirkan perbedaan itu, dan itu yang membuatnya semakin berat menjalani hubungan ini bersama Aji. Ia tidak ingin berpura – pura bahwa perbedaan itu bukan sebuah masalah untuknya dan untuk lelaki yang dikasihinya itu, Ia ingin bekata jujur bahwa Ia takut pada perbedaan itu,, namun Gadis itu tidak ingin menyakiti lelaki yang sampai saat ini selalu menyayanginya dengan sepenuh hati. Ya, Aji sangat menyayangi Una, ia bahkan menjadi lelaki yang sempurna di mata Una,. Aji tidak pernah memusingkan perbedaan yang ada, ia mau menerima Una apa adanya. Namun ini juga yang semakin membuat pikiran Una semakin runyam. Ia merasa bahwa jika semua ini terus dilanjutkan, akan ada pihak-pihak yang tersakiti, terlebih keluarga besar Una yang jelas – jelas menentang sebuah hubungan yang berbeda keyakinan. Ia ingin membicarakan semua dengan Aji, tapi Ia sendiri belum siap untuk menemui Aji dan berbicara padanya, karena jujur, hatinya belum sanggup menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada hubungan ini. Ia mengasihi lelaki itu lebih dari yang bisa Aji sadari. Una sangat menghargai Aji dan hubungan ini, karena mereka telah berjuang cukup keras menjalani hubungan diatas perbedaan yang ada, dan juga jarak. Ya, jarak ,,hal itu yang semakin membuat Una merasa bahwa hubungan ini penuh perjuangan, dan Ia merasa Ia akan menyerah pada keadaan ini. Namun ,hari demi hari ia kembali merenungkan hal ini, dan dia berdoa memohon jalan yang terbaik pada Tuhan , apapun yang akan terjadi , itu pasti rencana Tuhan, dan rencana Tuhan adalah rencana yang luarbiasa, dan akan indah pada waktunya. Akhirnya stelah merenungkan semuanya, Ia sadar mungkin ini saatnya bagi Una untuk melepaskan kekasih yang sangat ia sayangi itu, dan Ia akan berbicara pada Aji, dan menerima semuanya,,
Hari ini Una ingin mengatakan semuanya pada Aji.
Semua konsenkuensi sudah ia pikirkan, dan akhirnya dia mengutarakan isi hatinya. "Aku tahu, selama ini kita sudah berjuang sangat keras untuk mempertahankan hubungan kita. Kita juga sudah semaksimal mungkin melalui cobaan ini dan berusaha mempertahankan hubungan kita Ji,. Tapi aku merasa semakin lama semuanya semakin terasa berat, kita mungkin sudah merasakan keletihan dalam menjalani semua ini. Aku tahu sekarang kita sama - sama memiliki kesibukan baru. Aku sedang merencanakan event yang cukup besar, sehingga menguras seluruh tenaga dan pikiranku. kamu pun juga begitu. Saat ini kamu juga sedang menjalani tugasmu sebagai supervisor, dan itu juga menyita waktumu. Kita jadi tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkomunikasi, kita jadi jarang ngobrol bareng, dan yang bikin aku semakin kecewa, nggak ada satupun dari kita yang memulai komunikasi. Awalnya aku pikir itu biasa, mungkin nanti setelah beberapa waktu kita bisa mulai menyesuaikan diri dan mulai komunikasi lagi. Tapi semakin hari rasanya aku sudah tidak tau lagi kamu itu siapa aku,, kmu udah berubah, bahkan bangunin aku pagi2 pun nggak pernah! dan selalu aku yang memulai memberi kabar ,, aku nggak suka keadaan ini Ji,, kamu kenapa??" tanya Una (e buset panjang juga ya , durasi durasi hehe)
"Aku bersikap kaya gini tuh, ada alesannya Na, kamu mungkin bisa bilang kaya gitu, tapi hati nggak bisa bohong! Kamu bilang kamu sibuk., oke aku terima, tapi aku nggak suka kamu terlalu akrab dengan teman - teman barumu!!dan kebanyakan pria! kamu tidak menghargai aku apa sebagai pacarmu? Aku takut keakraban kamu menimbulkan hal hal yang nggak aku suka. Mereka cowok Na, dan kita jauh,, bisa saja kamu menjalin kedekatan dengan slah satu dari mereka, tanpa sepengetahuan ku! Aku ngerasa kamu punya laki laki lain disana ." kata Aji.
Una tidak habis pikir selama ini ternyata Aji belum sepenuhnya percaya pada Una. Hal ini membuat Una semakin kecewa. Ia merasa memang sudah tidak bisa meneruskan hubungan ini lagi., gadis ini sadar, jikalau ia tetap bersama Aji, maka akan timbul masalah seperti ini terus. Akhirnya , dengan segala konsekensi yang akan diterimanya ,, ia pun meminta putus dengan Aji. "
***segini dulu deh,, lanjutannya besok lagi <3 ***
Semua konsenkuensi sudah ia pikirkan, dan akhirnya dia mengutarakan isi hatinya. "Aku tahu, selama ini kita sudah berjuang sangat keras untuk mempertahankan hubungan kita. Kita juga sudah semaksimal mungkin melalui cobaan ini dan berusaha mempertahankan hubungan kita Ji,. Tapi aku merasa semakin lama semuanya semakin terasa berat, kita mungkin sudah merasakan keletihan dalam menjalani semua ini. Aku tahu sekarang kita sama - sama memiliki kesibukan baru. Aku sedang merencanakan event yang cukup besar, sehingga menguras seluruh tenaga dan pikiranku. kamu pun juga begitu. Saat ini kamu juga sedang menjalani tugasmu sebagai supervisor, dan itu juga menyita waktumu. Kita jadi tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkomunikasi, kita jadi jarang ngobrol bareng, dan yang bikin aku semakin kecewa, nggak ada satupun dari kita yang memulai komunikasi. Awalnya aku pikir itu biasa, mungkin nanti setelah beberapa waktu kita bisa mulai menyesuaikan diri dan mulai komunikasi lagi. Tapi semakin hari rasanya aku sudah tidak tau lagi kamu itu siapa aku,, kmu udah berubah, bahkan bangunin aku pagi2 pun nggak pernah! dan selalu aku yang memulai memberi kabar ,, aku nggak suka keadaan ini Ji,, kamu kenapa??" tanya Una (e buset panjang juga ya , durasi durasi hehe)
"Aku bersikap kaya gini tuh, ada alesannya Na, kamu mungkin bisa bilang kaya gitu, tapi hati nggak bisa bohong! Kamu bilang kamu sibuk., oke aku terima, tapi aku nggak suka kamu terlalu akrab dengan teman - teman barumu!!dan kebanyakan pria! kamu tidak menghargai aku apa sebagai pacarmu? Aku takut keakraban kamu menimbulkan hal hal yang nggak aku suka. Mereka cowok Na, dan kita jauh,, bisa saja kamu menjalin kedekatan dengan slah satu dari mereka, tanpa sepengetahuan ku! Aku ngerasa kamu punya laki laki lain disana ." kata Aji.
Una tidak habis pikir selama ini ternyata Aji belum sepenuhnya percaya pada Una. Hal ini membuat Una semakin kecewa. Ia merasa memang sudah tidak bisa meneruskan hubungan ini lagi., gadis ini sadar, jikalau ia tetap bersama Aji, maka akan timbul masalah seperti ini terus. Akhirnya , dengan segala konsekensi yang akan diterimanya ,, ia pun meminta putus dengan Aji. "
***segini dulu deh,, lanjutannya besok lagi <3 ***
Aiih..
BalasHapusReally.. wanna read this but trust me it's really really hard for me even to see ><
hehe okay , I'll change the background :)
BalasHapushmm..
BalasHapusthanks